Minggu, 13 Januari 2013

IMPLEMENTASI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH PADA SEKOLAH SWASTA

(Studi Analisis Tentang Kontribusi Spiritualitas Islam Terhadap Proses Manajemen
 di Lembaga Pendidikan SMA Kesatrian 1 Semarang)
  OLEH : NUR RIFAI, S.Ag.,M.S.I.

Pendidikan merupakan salah satu aspek penting bagi pembangunan bangsa. Karena itu hampir semua bangsa menempatkan pembangunan pendidikan sebagai prioritas utama dalam program pembangunan nasional mereka. Sumber daya manusia yang bermutu yang merupakan produk pendidikan, merupakan kunci keberhasilan pembangunan suatu negara.
            Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan sistem pendidikan dan implementasi mamanejemen dan analisis kontribusi pendidikan spritualitas islam bagi proses manajemen (baik persiapan, pelaksanaan maupun evaluasinya di SMA Kesatrian 1 Semarang. Penelitian ini meruapakn penelitian kualitataif oleh karena itu teknik pengambilan data melalui indepth interview, observasi partisipatory, dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis dengan metode deskriptif dan interpretasi, melalui langkah-langkah siklus interaktif yang komponenenya meliputi reduksi data (data reduction) sajian data (data display), dan kesimpulan (kongklution drawing).
Berdasarkan hasil temuan penelitian bahwa SMA kesatrian 1 semarang telah mengimplementasikan proses maanjemen berbasis sekolah dengan strategi penerapan secara penuh sejak sistem integrasi antara pendidikan kurikuler dengan pendekatan semangat religius berupa pengaktifan kegiatan ibadah pokok dan pendekatan prilaku akhlakul karim. Implementasi tersebut nampak pada nuanasa kegiatan intar sekolah yang bersifak khas, baik dari aspek fisik mampun onfisik. Aspek fisik intar sekolah yang khas diantaranya ialah adanya masjid,  kotak infak jumat pagi, sudut kotak infak beramal perkelas, pemberlakukan salat duha, aktif dalam penyelenggraaan hari-hari besar islam (PHBI) serta pembelajaran agama yang lain seperti baca tulis alquran. Sedangkan pada aspek nonfisik ialah adanya pengembangang kedisiplinan sekolah dan silaturrahim seperti keramahan, kesahajaan (kesedrhanaan), keihklasan, keakraban dan kerukunan dari segenap unsur dari warga sekolah, kemandirian, belajar tuntas, tanggungjawab dan ketaatan pada norma-noma agama  yang berlaku dalam tradidisi sekolah.
Keberhasilan implementasi mutu pelaksananann MBS tersebut tidak terlepas dari sistem perwujudan lembaga, baik fisi misi tujuan endidikan, peserta didik, tenaga pendidikn dan administrasi. Jalur pendidikan, kurikulum maupun proses pembelajarannyan yang dilaksanakan melalui tiga tahapan, yaitu persiapan implementasi, pelaksnaan imlplemtasi Dan evaluasi terhadap imlplemntasi kurikulum secara keseluruhan. Sedangkan pelaksanaan kurikulumnya berbentuk intra kutrikulur. Ekstra kurikuler dan kokurikulrer yang straetegi pelaksnaannya masing-masing memiliki perbedaan dari segi bentuk kegiatan metode pembelajaran dan evaluasnya.

Kata kunci: implementasi, mbs, spiritualitas islam.

A. PENDAHULUAN
1.1.    Latar Belakang Masalah
Isu sentral yang selalu mengemuka dalam dinamika pendidikan di Indonesia adalah berkenaan dengan mutu pendidikan. Banyak unsur sistematik yang memberikan kontribusi kepada mutu pendidikan, sehingga unsur-unsur tersebut sering dijadikan sasaran upaya perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan. Unsur-unsur dimaksud, sekurang-kurangnya mencakup: kurikulum, guru dan tenaga kependidikan lainnya, siswa, sarana dan prasarana penunjang, proses belajar mengajar, sistem penilaian, bimbingan kepada siswa, dan pengelolaan program pendidikan. Kebijakan yang sudah ada, terkait dan sepadan dengan pengoperasian muatan lokal, masih belum tuntas dilaksanakan. Sekarang dihadapkan pula pada  otonomi  daerah  yang  menuntut  pengelolaan  pendidikan  secara otonom dengan model manajemen berbasis sekolah.[i] Kondisi ini menuntut pemikiran-pemikiran yang sistematis untuk merumuskan bentuk hubungan kerja sama yang sesuai bagi dasar dalam kaitannya dengan otonomi daerah dan relevansi pendidikan.[ii]
Berdasarkan kenyataan-kenyataan tersebut, perlu dilakukan upaya- upaya perbaikan, salah satunya yang  sekarang  sedang  dikembangkan adalah reorientasi penyelenggaraan pendidikan, melalui manajemen berbasis sekolah (School Based Management)
Melalui MBS sekolah memiliki kewenangan dalam pengambilan keputusan  yang  terkait  langsung  dengan  kebutuhan-kebutuhan sekolah. Dengan MBS unsur pokok sekolah, memegang kontrol yang lebih besar pada setiap kejadian di sekolah. Unsur pokok sekolah inilah yang kemudian  menjadi lembaga non-struktural yang disebut dewan sekolah yang anggotanya terdiri dari guru, kepala sekolah, administrator, orang tua, anggota masyarakat dan murid. Oleh karena itu, MBS memerlukan upaya-upaya penyatupaduan atau penyelarasan sehingga pelaksanaan pengaturan berbagai komponen sekolah tidak tumpang tindih, berbenturan, saling lempar tugas dan tanggung jawab. Dengan begitu, tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai secara efektif dan efesien.[iii]

B. MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH DAN SPIRITUALITAS ISLAM
2.1.       Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
2.1.1.    Pengertian MBS
Manajemen berbasis sekolah adalah model pengelolaan yang memberikan otonomi atau kemandirian kepala sekolah dan mendorong pengambilan  keputusan  partisipatif  yang  melibatkan  secara  langsung semua warga sekolah sesuai dengan standar pelayanan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat, propinsi dan pemerintahan kabupaten/kota.
Secara umum, manajemen berbasis sekolah adalah : Model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan partisipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah.[iv]
Pendapat  lain  menyatakan  bahwa  manajemen  berbasis  sekolah adalah pengkoordinasian dan penyerasian sumber daya yang dilakukan secara otomatis (mandiri) oleh sekolah melalui sejumlah input manajemen untuk mencapai tujuan sekolah dalam kerangka pendidikan nasional, dengan melibatkan semua kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan (partisipatif).[v]
Sedangkan menurut Umaedi, manajemen berbasis sekolah adalah sesuatu yang relatif, maksudnya adalah adanya keseimbangan kekuasaan dan kewenangan (power & authorities) antara sekolah, pemerintah  kabupaten/kota, pemerintah  propinsi, pemerintah  pusat  dan masyarakat di dalam pengelolaan pendidikan yang bermutu.[vi]
Menurut Satmoko, manajemen berbasis sekolah adalah: Model manajemen yang memberi otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijaksanaan pendidikan nasional[vii]

2.1.2.    Model Manajemen Berbasis Sekolah
Model manajemen berbasis sekolah ini ditandai dengan adanya otonomi yang luas di tingkat sekolah, dan partisipasi masyarakat yang tinggi. Sekolah memiliki keleluasaan mengelola sumber daya dengan mengaplikasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan serta sekolah sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. Masyarakat dituntut partispasinya agar mereka lebih memahami tentang pendidikan, membantu, serta mengontrol pengelolaan pendidikan. Sedangkan kebijkasanaan pendidikan  nasional  yang  menjadi  prioritas  pemerintah harus pula dilakukan oleh sekolah. Dalam manajemen berbasis sekolah, sekolah dituntut memiliki akuntabilitas terhadap orang tua siswa, masyarakat dan pemerintah.[viii]
MBS berpotensi menawarkan partisipasi masyarakat, pemerataan, efisiensi serta manajemen yang bertumpu pada tingkat sekolah.          Model MBS ini untuk menjamin semakin rendahnya kontrol  pemerintah pusat, tetapi semakin meningkatnya otonomi sekolah untuk menentukan sendiri apa yang perlu diajarkan dan mengelola sumber daya yang ada di sekolah untuk berinovasi.[ix]
Dalam hal model manajemen berbasis sekolah menurut Makmun (1999) sebagaimana dikutip oleh Sufyarma, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan  disini  yaitu:  (1)  gaya  kepemimpinan  yang  dianut  harus bersifat demokratis, berjiwa lugas dan terbuka, (2)  budaya dan lingkungan (iklim) keorganisasian yang sehat, sehingga setiap anggotanya dapat mengekspresikan pandangan dan pendiriannya secara lugas; dan (3) menjunjung tinggi prinsip profesionalisme di lingkungan kerja yang bersangkutan. Interaksi ketiga unsur itulah sebagai landasan utama bagi terwujudnya keberhasilan pendidikan baik di tingkat sekolah maupun tingkatan keorganisasian wilayah yang menaunginya.
Model MBS ini memiliki potensi yang besar untuk menciptakan kepala  sekolah, guru  dan  adminstrator sekolah  yang  profesional. Oleh karena itu, sekolah akan bersifat responsif terhadap kebutuhan masing- masing siswa dan masyarakat sekolah. Orang tua harus berpartisipasi langsung  untuk  meningkatkan  prestasi   siswa   secara   optimal.  MBS menuntut komitmen semua unsur sekolah yang terkait seperti personil sekolah, orang tua, murid dan masyarakat yang lebih luas dalam rangka pengambilan keputusan tentang pendidikan di sekolahnya. Dengan demikian, peranan antara para profesional, orang tua dan masyarakat dapat melengkapi satu sama lain.[x]
2.1.3.    Pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah
Menurut Slamet PH, ada beberapa strategi utama yang perlu ditempuh dalam melaksanakan manajemen berbasis sekolah adalah      
 Pertama, Mensosialisasikan konsep manajemen berbasis sekolah keseluruh warga (guru, siswa, wakil-wakil kepala sekolah, konselor, karyawan, dan unsur-unsur terkait lainnya (orang tua murid, pengawas, wakil kandep, wakil  kanwil,  dsb).  Melalui  seminar,  diskusi, forum ilmiah,  dan media masa.
 Kedua, melakukan analisis situasi sekolah dan luar sekolah yang hasilnya berupa tantangan nyata yang harus dihadapi oleh sekolah dalam rangka mengubah manajemen berbasis pusat menjadi manajemen berbasis sekolah.
Ketiga, merumuskan tujuan situasional yang akan dicapai dari pelaksanaan manajemen berbasis sekolah berdasarkan tantangan nyata yang dihadapi.
 Keempat,  mengidentifikasi  fungsi-fungsi  yang  perlu  dilibatkan untuk mencapai tujuan situasional dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya. Untuk mencapai tujuan situasional yang telah ditetapkan, maka perlu diidentifikasi fungsi-fungsi mana yang perlu diteliti tingkat kesiapannya.
Kelima, menentukan tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktor- faktornya melalui analisis SWOT (Strength, Weakneses, Opportunity, and Threat).[xi]
Analisis SWOT dilakukan dengan maksud mengenali tingkat kesiapan setiap fungsi dari keseluruhan fungsi yang diperlukan untuk mencapai tujuan situasional yang telah ditetapkan. Berhubung tingkat kesiapan fungsi ditentukan oleh tingkat kesiapan masing-masing faktor yang terlibat pada setiap fungsi, maka analisis SWOT dilakukan terhadap keseluruhan faktor dalam setiap fungsi, baik faktor yang tergolong internal maupun faktor eksternal. Tingkat  kesiapan harus memadai, artinya minimal memenuhi ukuran kesiapan yang diperlukan untuk mencapai tujuan situasional, yang dinyatakan sebagai kekuatan, bagi faktor yang tergolong internal; Peluang, bagi faktor yang tergolong eksternal. Sedang tingkat kesiapan yang kurang memadai, artinya tidak memenuhi ukuran kesiapan, dinyatakan bermakna kelemahan, bagi faktor yang tergolong faktor internal; dan ancaman, bagi faktor yang tergolong faktor eksternal.
Keenam, memilih langkah-langkah pemecahan (peniadaan persoalan), yakni tindakan yang diperlukan untuk mengubah fungsi yang tidak siap menjadi fungsi yang siap.
 Ketujuh, berdasarkan langkah-langkah pemecahan persoalan tersebut, sekolah bersama-sama dengan semua unsur-unsurnya membuat rencana untuk jangka pendek, menengah, dan panjang, beserta program-programnya untuk merealisasikan rencana tersebut.
Kedelapan, melaksanakan program-program untuk merealisasikan rencana jangka pendek manajemen berbasisi sekolah. Dalam pelaksanaan, semua input yang diperlukan untuk berlangsungnya proses (pelaksanaan) manajemen berbasis sekolah harus siap.
Kesembilan, pemantauan terhadap proses dan evaluasi terhadap hasil manajemen berbasis sekolah perlu dilakukan.
Hasil pemantuan  proses  dapat  digunakan sebagai  umpan  balik  bagi  perbaiakan penyelanggraan dan hasil evaluasi dapat digunakan untuk mengukur  tingkat ketercapaian tujuan situasional yang telah dirumuskan.
Jadi secara ringkas ada beberapa tahapan dalam pelaksanaan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah, yaitu:
1)   Melakukan sosialisasi;
2)   Mengidentifikasi tantangan nyata sekolah;
3)   Merumuskan visi, misi, tujuan dan sasaran (tujuan situasional) sekolah;
4)   Mengidentifikasi fungsi-fungsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran;
5)   Melakukan analisis SWOT;
6)   Alternatif langkah pemecahan soal;
7)   Menyusun rencana dan program peningkatan mutu;
8)   Melaksanakan rencana peningkatan mutu;
9)   Melakukan evaluasi pelaksanaan;
10) Merumuskan sasaran mutu baru.[xii]
Ada beberapa pertimbangan dasar diluncurkannya kebijakan manajemen berbasis sekolah, yaitu:
1)   Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan dan peluang dan ancaman bagi dirinya, sehingga dapat mengoptimalkan pemanfataan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya;
2)   Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya, khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai  dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik;
3)   Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah karena pihak sekolahlah yang paling tahu apa yang terbaik bagi sekolahnya;
4)   Penggunaan sumber daya pendidikan lebih efektif dan efesien bila mana dikontrol oleh masyarakat setempat;
5)   Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan sekolah, menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat;
6)   Sekolah dapat bertanggung jawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah, orang tua peserta didik, dan masyarakat pada umumnya sehingga dia akan berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan  dan  mencapai  sasaran  mutu  pendidikan yang telah direncanakan;
7)   Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah-sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya- upaya inovatif dengan dukungan orang tua peserta didik, masyarakat, dan pemerintah daerah setempat; dan
8)   Sekolah dapat secara tepat merespon aspirasi masyarakat.

2.2.   Spiritualitas Islam (SI)
2.2.1.    Pengertian Spiritualitas Islam (SI)
Secara etimologi kata “sprit” berasal dari kata Latin “spiritus”, yang diantaranya berarti “roh, jiwa, sukma, kesadaran diri, wujud tak berbadan, nafas hidup, nyawa hidup.” Dalam perkembangannya, selanjutnya kata spirit diartikan secara lebih luas lagi. Para filosuf, mengonotasian “spirit” dengan :
a.       Kekuatan yang menganimasi dan memberi energi pada cosmos,
b.      Kesadaran yang berkaitan dengan kemampuan, keinginan, dan intelegensi,
c.       Makhluk immaterial,
d.      Wujud ideal akal pikiran (intelektualitas, rasionalitas, moralitas, kesucian atau keilahian).
Dilihat dari bentuknya, spirit menurut Hegel, paling tidak ada tiga tipe : subyektif, obyektif dan obsolut.
1.   Spirit subyektif berkaitan dengan kesadaran, pikiran, memori, dan kehendak individu sebagai akibat pengabstraksian diri dalam relasi sosialnya.
2.   Spirit obyektif berkaitan dengan konsep fundamental kebenaran (right, recht), baik dalam pengertian legal maupun moral.
3.   Sementara spirit obsolut yang dipandang Hegel sebagai tingkat tertinggi spirit-adalah sebagai bagian dari nilai seni, agama, dan filsafat.
Secara psikologik, spirit diartikan sebagai “soul” (ruh), suatu makhluk yang bersifat nir-bendawi (immaterial being). Spirit juga berarti makhluk adikodrati yang nir-bendawi. Karena itu dari perspektif psikologik, spiritualitas juga dikaitkan dengan berbagai realitas alam pikiran dan perasaan yang bersifat adikodrati, nir-bendawi, dan cenderung “timeless & spaceless”.
2.2.2.      Landasan Spiritualitas Islam

وما ارسلناك الّا رحمة للعالمين
 Artinya: ”Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam,”
(QS. Al-Ambiya : 107).
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa Rasulullah di utus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam, rahmat tidak akan dirasakan oleh makhluk di bumi kecuali dengan akhlak mulia, untuk mewujudkan rahmat itu Allah menurunkan kitab-kitabnya, dan mengutus para Rasul dan Nabi untuk menjelaskan kitab-kitab-Nya.
Konsekuensi dari turunnya kitab-kitab Allah dan di utusnya para Nabi dan Rasul adalah adanya hokum/ Syariat yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan antar sesama manusia, dan hubungan manusia dengan lingkungannya.
Berbagai ritual diperintahkan Allah melalui para Nabi dan Rasul ternyata banyak bermuara pada pembentukan akhlak, seperti dalam perintah salat sebagai berikut :
 انَ الصّلوة تنهى عن الفحشاء والمنكر
Artinya : ”Dan dirikanlah salat sesungguhnya salat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar,”(QS. Al-Ankabut : 45).
Ayat tersebut secara jelas menyatakan bahwa muara dari ibadah salat adalah terbentuknya pribadi yang terbebas dari sikap keji dan mungkar, pada hakekatnya adalah terbentuknya manusia berakhlak mulia, bahkan kalau kita telusuri proses ritual salat selalu dimulai dengan berbagai persyaratan tertentu, seperti harus bersih badan, pakaian dan tempat, dengan cara mandi dan berwudhu, intinya salat dipersiapkan untuk membentuk sikap manusia selalu bersih, patuh, taat peraturan dan melatih seseorang untuk tepat waktu.
Berbagai ritual diperintahkan Allah melalui para Nabi dan Rasul ternyata banyak bermuara pada pembentukan akhlak, seperti dalam perintah salat,”Dan dirikanlah salat sesungguhnya salat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar,”(QS. Al-Ankabut : 45). Ayat tersebut secara jelas menyatakan bahwa muara dari ibadah salat adalah terbentuknya pribadi yang terbebas dari sikap keji dan mungkar, pada hakekatnya adalah terbentuknya manusia berakhlak mulia, bahkan kalau kita telusuri proses ritual salat selalu dimulai dengan berbagai persyaratan tertentu, seperti harus bersih badan, pakaian dan tempat, dengan cara mandi dan berwudhu, intinya salat dipersiapkan untuk membentuk sikap manusia selalu bersih, patuh, taat peraturan dan melatih seseorang untuk tepat waktu.
Dalam hadis qudsi Allah Swt. Berfirman :
”Sesungguhnya Aku menerima salat dari seseorang yang mengerjakannya dengan khusuk karena kebesaran-Ku, dan ia tidak mengharapkan anugrah dari salatnya karena sebagai hamba-Ku, ia tidak menghabiskan waktu malamnya karena bermaksiat kepada-Ku, menghabiskan waktu siangnya untuk berdzikir kepada-Ku, mengasihi orang miskin, ibnu sabil, mengasihi diri, dan menyantuni orang terkena musibah,”(HR. Azzubaidi).
Akhlak juga dapat menentukan beriman atau tidaknya seseorang,”Demi Allah ia tidak beriman, demi Allah ia tidak beriman, demi Allah ia tidak beriman. Para sahabat bertanya,’siapakah mereka wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab : orang yang tidak menyimpan rahasia kejelekkan tetangganya,’ (HR. Muslim). Hadis tersebut secara nyata mengandung arti bahwa secara meyakinkan orang yang berakhlak buruk kepada tetangganya oleh Rasulullah dianggap tidak beriman, selama ini mungkin kita menganggap perbuatan jahat kita kepada orang lain atau tetangga sebagai sesuatu yang biasa, sesuatu yang tidak akan berpengaruh pada eksistensi keimanan, padahal kalau kita mengetahui, ternyata berakhlak jelek sangat besar pengaruhnya terhadap keimanan.
Ternyata, orang mukmin yang sempurna imannya bukan karena banyak ibadahnya, tetapi yang baik akhlaknya,”Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya,” (HR. Abu Daud). Dalam ayat lain, Allah menyatakan bahwa kita belum sampai kepada kebajikan yang sempurna sebelum kita menafkahkan harta yang kita cintai, menafkahkan harta kepada orang yang sangat memerlukan adalah wujud dari kesantunan dan kedermawanan seseorang, dan sikap itu merupakan bukti kemuliaan akhlaknya,”Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan yang sempuran sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai,” (QS. Ali Imran : 92).
Inilah sesungguhnya esensi dari spiritualitas. Spiritualitas berarti percaya kepada sesuatu di luar (beyond) kita yang mampu mengatur segalanya, dan kita tidak berdaya untuk mencegah Nya berbuat sesuatu.
2.2.3.   Tujuan Spiritual Islam
Islam memandang manusia difungsikan sebagai khalifatullah di muka bumi, dimana segala perbuatannya harus menjadi sebuah pengabdian (ibadah) kepada-Nya karena dalam hakikat penciptaannya ia sebagai 'abdulla>h (hamba Allah). Sebagai hamba Allah, manusia harus pasif di hadapan Tuhan dan menerima apa pun rahmat yang diturunkan dari¬Nya. Sementara sebagai khalifah Allah, manusia harus aktif di dunia, memelihara keharmonisan alam, dan menyebarluaskan rahmatTuhan yang diturunkan kepadanya sebagai pusat ciptaan.
Hal ini bisa dicapai oleh manusia manakala ia berusaha memperoleh titik keseimbangan antara iman dan ilmu. Ilmu yang dicapai dengan akal dan pengamatan rasional dengan ukuran kuantitatif, dapat membentuk manusia sebagai penguasa dunia. Sedangkan iman yang dicapai dengan rasa melalui pengamatan irfanie dan karena itu bersifat kualitatif, dibentuk oleh agama, membentuk manusia menjadi hamba.
2.2.4.   Bentuk-bentuk Pendekatan Spiritual Islam Sebagai Solusi
Secara  operasional, Amru Khalid dalam motto bukunya, ia mensitir firman Allah swt. "Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada mereka sendiri". 
            Spiritualitas Islam pada konteks kultural maupun pemikiran, ia mencatat beberapa terma antara lain, :
1.   Term 'Kesungguhan'
2.   Term 'Berbuat Baik (Ihsan)' 
3.    Term ' Menghargai waktu 
4.   Term 'Bagaimana Meneguhkan Agama'
            Dalam terma kesungguhan, setidaknya ada dua term, yaitu :  ditulisnya ada dua nilai, :
1.  Paradigma ajaran Islam, dengan nilai ahlak seperti :
      a.   Penuhilah janjimu jika engkau berjanji,
      b.   Jujurlah kalian, jika berbicara, dan
      c.   Tunaikanlah, jika kalian dipercaya.
2.   Paradigma ajaran Islam dengan nilai ibadah sebagai contoh,:
      a.   Jagalah kemaluan kalian,
      b.   Jagalah pandanganmu, dan
      c.   Jagalah hubungan silatur rahim kalian.
Term ke-2) Strategi Perubahan. Pada term ini, bahwa Strategi Perubahan dan Kebangkitan Umat suatu entitas ibarat resep dengan penentuan obatnya.  Ia berelaborasi, bahwa kita akan meneguhkan tekad, yakni kita harus mengadakan perbaikan dan sepakat untuk melakukan itu, maka kita akan melakukan kewajiban-kewajiban kita  terhadap umat dengan segera. 
Salah satu jawaban dari problem tersebut diatas adalah dengan melakukan pendekatan manajemen spiritual (spiritual management approach) bagi pengelola pendidikan. Spirit dari pendekatan manajemen spiritual tersebut akan bermuara pada sifat perubahan perilaku dari manusia itu sendiri. Dalam konteks ini berarti karyawan dan guru sekaligus pengelola (bagian) dari lembaga pendidikan akan nantinya senantiasa mampu mengilhami, membangkitkan, mempengaruhi dan menggerakkan melalui keteladanan, pelayanan dan implementasi nilai dan sifat religiusitas dalam tujuan, proses, budaya dan perilaku kepemimpinan. Dalam perspektif ajaran Islam maka konsepsi pendekatan manajamen spiritual tersebut dapat dilihat dari konsepsi siddiq (righteous) atau kejujuran/kebenaran, amanah (trusworthy) atau dapat dipercaya, fathonah (working smart) atau kecerdasan dan tabligh (communicate openly) atau mensosialisasikan yang mampu mempengaruhi orang lain dengan cara mengilhami tanpa mengindokrinasi, menyadarkan tanpa menyakiti, membangkitkan tanpa memaksa dan mengajak tanpa memerintah.
Jika paradigma tersebut diimplementasikan, maka suatu keniscayaan akan terciptanya suatu perubahan mendasar pada output pengelolaan kegiatan pendidikan yaitu kompetensi sumber daya manusia (baik karyawan, pendidik dan peserta didik).
Indikator tersebut dapat kita lihat dari berbagai statment dan pandangan berfikir pimpinan lembaga ini kepada para guru dan karyawan. Itu artinya bahwa sebenarnya pimpinan lembaga ini sudah mengadaptasi betul bahwa problem mendasar mendesain eksistensi dan kredibilitas lembaga ini adalah berawal dari empat sifat konsepsi mengenai spiritualitas yang telah dikemukakan diatas. Jika dimanifestasikan dalam dunia pendidikan, keempat sifat tersebut adalah
Pertama, kejujuran akademik. Diberbagai kesempatan pimpinan lembaga ini senantiasa mengingatkan dan mengartikulasikan kepada kita semua sifat siddiq ini. Para guru senantiasa selalu dipupuk untuk berangkat dari faktor kejujuran dan hati nurani dalam melakukan aktivitasnya, karyawan juga di dorong untuk bersikap jujur dalam bekerja baik dilihat dari konteks pekerjaannya, etikanya maupun hasil yang telah dicapainya sebagai karyawan. Dan karyawan-pun dituntut untuk memiliki konsepsi bahwa bekerja adalah ibadah.
Kedua, Amanah (kepercayaan dan tanggung jawab). Diberbagai kesempatan pula pimpinan senantiasa memberikan harapan dan kesempatan kepada karyawan agar dapat bekerja berdasarkan hati nurani. Itu artinya bahwa pimpinan lembaga ini telah berusaha memberikan kepercayaan dan apresiasi yang tinggi kepada segenap karyawan dan para guru agar proses kegiatan pendidikan di SMA Kesatrian 1 Semarang berjalan sesuai dengan role yang sudah ditentukan. Tinggal memang persoalannya adalah apakah kepercayaan dan apresiasi yang diberikan oleh lembaga kepada karyawan tersebut berimbas kepada munculnya semangat produktivitas dan pemberdayaan diri karyawan untuk terus mengembangkan potensinya sebagai pendidik.
Ketiga, bekerja keras dan bekerja cerdas. Diberbagai kesempatan pula pimpinan senantiasa selalu mengingatkan kepada kita semua agar sebagai karyawan kita harus mampu melakukan proses pencerahan dalam diri melalui pemanfaatan medium keilmuan yang kita miliki (fathonah). Dengan demikian kita dapat bekerja secara maksimal sesuai dengan harapan dan keinginan lembaga. Dengan kata lain, konsepsi bekerja keras dan bekerja cerdas tentu akan memberikan proses pendewasaan berfikir dan akan memunculkan bargaining pemikiran, sehingga lembaga merasa kontribusi karyawan menjadi lebih kongkrit dan efektif. Untuk faktor yang ketiga tersebut memang lembaga memiliki tantangan yang tidak ringan. Secara jujur kita dapat menilai bahwa komposisi karyawan secara kuantitatif untuk saat ini memang tidak berbanding lurus dengan kompetensinya secara kualitatif.
Keempat, tabligh. Jika kita manifestasikan dalam budaya kerja di SMA Kesatrian 1 Semarang bahwa segenap karyawan dan guru haruslah peka dan responsif terhadap informasi yang menjadi kebijakan lembaga dan harus mampu menjadi sosialisator bagi mahasiswa. Tentu hal ini menjadi amat substansial mengingat  kegiatan pegelolaan pendidikan di SMA Kesatrian 1 Semarang mengedepankan teknologi informasi sebagai landasan pijak. Bisa kita bayangkan apabila kita sebagai karyawan dan guru tidak responsif terhadap kebijakan-kebijakan lembaga, tentu akan berdampak secara krusial kepada efektifitas kegiatan belajar mengajar.
Berdasarkan konsepsi terebut diatas, kita semua berharap bahwa lembaga ini mampu mengimplementasikan spiritual management approach secara efektif kepada segenap jajaran di SMA Kesatrian 1 Semarang. Keyakinan ini tentulah harus menjadi semangat optimisme kita semua mengingat sebenarnya Bina Sarana Informatika beruntung memiliki sumber daya manusia yang tingkat religiusitasnya relatif tinggi. Realitas ini tentulah harus diberdayakan untuk memberikan proses perubahan lembaga kearah yang lebih baik. Oleh karenanya sekali lagi adalah relevan apabila pimpinan lembaga ini melakukan pendekatan religius kepada karyawan untuk mengefektifkan segala bentuk kebijakannya. Dan mudah-mudahan pula kebijakan tersebut dalam perspektif karyawan bukan sebagai justifkasi logis secara efektif untuk mengkooptasi potensi dan pemikiran kritis sumber daya manusia yang ada.        
C. IMPLEMENTASI MBS DAN KONTRIBUSI SPIRITUALITAS ISLAM     TERHADAP PROSES MANAJEMEN DI SMA KESATRIAN 1 SEMARANG                    
3.1.       Implementasi MBS SMA Kesatrian 1 Semarang
3.1.1. Manajemen
3.1.1.1.  Tugas Kepala Sekolah
Berdasarkan data yang peneliti dapatkan, bahwa pelaksanaan manajemen pada SMA Kesatrian 1 Semarang dapat dijelaskan sebagai berikut :
3.2.1.1.1.                  Planning
               Dalam hal pembagian tugas (job description) dan wewenang, maka kepala sekolah memberikan tugas didasarkan pada rapat-rapat baik rapat tahunan berupa rencana strategi sekolah (renstra) maupun rapat tengah tahun saat mengawali semester. Dengan hasil :
a.       Tugas kepala sekolah
1).  Kepala sekolah memimpin pelaksanaan seluruh kegiatan sekolah meliputi :
                           -  Administrasi dan pengajaran
                           -  Kegiatan supervisi dan pengajaran
2). Kegiatan kepala sekolah
- Merencanakan dan menyusun program kegiatan tahunan / bulanan / mingguan, termasuk pembuatan jadwal kegiatan.
-  Mengkoordinasikan tugas dan kegiatan pelaksana di lingkungan sekolah
-  Meningkatkan dan membina guru dalam kegiatan proses belajar mengajar serta mengadakan penataran atau diskusi kelompok yang berkenaan dengan kegiatan belajar mengajar serta mengadakan atau mengusahakan fasilitas berupa buku bacaan, kelengkapan laborat serta kesejahteraan karyawan
3.2.1.1.2.                  Organising
      Dalam hal mengorganisasikan kepala sekolah berperan untuk :
a.       Membina dan meningkatkan para guru dalam pelaksanaan bimbingan penyuluhan bagi para siswa.
b.      Membina hubungan kerja dengan orang tua siswa, masyarakat, dan lembaga pemerintah serta lembaga swasta termasuk lembaga-lembaga keagamaan.
c.       Mengelola setiap konflik vertikal maupun horizontal untuk tetap terjaga keseimbangan konflik yang terjadi menjadi dinamika kehidupan sekolah.
3.2.1.1.3.                  Actuating
a. menjalankan fungsi-fungsi yang efektif
Dalam hal actuating atau penyelenggaraan sekolah pada SMA Kesatrian 1 Semarang, kepala sekolah, wakil kepala bersama komite melakukan peraturan maupun kebijakan dengan optimal, seperti :
a.       Metode yang bervariasi dalam mengelola guru, karyawan, maupun siswa.
b.      Memotivasi dengan semangat tinggi selalu dikomunikasikan melalui guru dan pemeran pada bidangnya.
c.       Memberikan motivasi dengan semangat tinggi selalu ditanamkan kepada siswa langsung setiap pagi pada masing-masing kelas atau yang disebut dengan kunjungan kelas oleh kepala sekolah
d.      Mengalokasikan waktu untuk seluruh warga sekolah secara efektif seperti jam masuk guru/ siswa, jam masuk karyawan termasuk juga jam masuk satpam juga pengalokasian waktu yang efektif untuk saat istirahat sekolah maupun saat kepulangan dari penyelenggaraan pendidikan.
Pemberlakuan optimal juga dilakukan oleh kepala sekolah secara efektif dengan pendekatan eksternal, seperti
a.       Mengembangkan lingkungan sekolah yang kondusif
b.      Mengembangkan tempat parkir yang rapih juga lokasi satpam yang strategis.
c.       Mengembangkan jasa pelayanan seperti pengadaan foto copy sekolah dan kantin sekolah
d.      Mengembangkan jasa pelayanan komunikasi seperti kelengkapan komunikasi telephone di ruangan satpam, pengelolaan identifikasi guru dan karyawan, menyangkut alamat rumah, sehingga memudahkan pelayanan jaringan komunikasi antara internal warga sekolah maupun jaringan komunikasi antara sekolah dan masyarakat
e.       Menjalankan penyelenggaraan sekolah dengan menjaga lingkungan sosial yang kondusif, dapat dikondisikan oleh kepala sekolah dan wakil kepala sekolah, pembina OSIS, karyawan, dan tidak kalah pentingnya guru Agama Islam. Dengan tujuan dapat menciptakan opini publik yang menarik di masyarakat.    
3.2.1.1.4.                  Controlling
                        Dalam hal kontrol sekolah atau pengawasan yang dalam hal ini kepala sekolah berperan sangat aktuf diantaranya :
a.       Mengadakan pengawasan secara proaktif terhadap pengelolaan secara menyeluruh yang berkaitan dengan administrasi, ketatausahaan, dan yang berhubungan dengan kegiatan pengajaran, sumber daya personal, kesiswaan, peralatan sarana dan pra sarana sekolah.
b.      Mengadakan supervisi terhadap kegiatan belajar mengajar yang meliputi pengawasan sarana pengajaran, pelaksanaan pengajaran, bimbingan dan penyuluhan, pelaksanaan praktik laboratorium, kegiatan ketrampilan dan keagamaan serta pengawasan tentang peribadatan, pendidikan agama, perpustakaan dan ekstrakurikuler.
c.       Melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaan dan hasil-hasil pendidikan dan pengajaran kepada siswa dengan ketentuan yang berlaku.
3.2.1.2. Wakil Kepala Sekolah Bidang Ketenagaan/tenaga kependidikan.
Tugas pokoknya adalah membantu kepala sekolah dalam tugas sehari-hari penyelenggaraan sekolah dengan perincian tugas :
a.       Membantu kepala sekolah dalam menyusun program kerja tahunan
b.      Membantu kepala sekolah dalam mengatur pengelolaan bidang pengajaran, kesiswaan, hubungan dengan masyarakat
c.       Ikut mengawasi keagamaan, dan kelancaran pelaksanaan kegiatan PBM
d.      Mengawasi kegiatan dan kelancaran pelaksanaan kegiatan PBM
e.        Mengadakan koordinasi dengan wali kelas
f.        Mengkoordinasikan tata tertib yang telah disepakati
g.       Membuat daftar piket guru
h.      Mengadakan bimbingan terhadap guru
i.        Melaksanakan tugas-tugas baru yang diberikan oleh kepala sekolah
j.        Bertindak atas nama kepala sekolah apabila kepala sekolah berhalangan hadir atau dinas luar
3.2.1.3.   Tugas Koordinator Bidang Kurikulum / Bidang Pengajaran
                     Tugas pokoknya adalah melaksanakan tugas ketatausahaan bidang pengajaran dengan rincian tugas
a.       Bersama wakil kepala sekolah
b.      Menyusun rencana dan program kerja bidang pengajaran / pendidikan
c.       Menyusun jadwal pelajaran sekolah
d.      Menyusun jadwal UUB dan satuan semester
e.       Mempersiapkan penyelenggaraan UUB dan semester
f.        Menetapkan rumusan penilaian, evaluasi, dan kenaikan kelas.

Tugas tambahan :
a.       Mempersiapkan satuan pelajaran, daftar nilai dan buku raport / perangkat penunjang pengajaran
b.      Mempersiapkan buku pencatatan kegiatan ekstra kurikuler untuk wali kelas
c.       Mempersiapkan blangko perencanaan tugas kurikuler
d.      Mempersiapkan jurnal kelas dan absensi siswa
e.       Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh kepala sekolah.
                  3.2.1.4.   Koordinator urusan Kesiswaan.
                                                Tugas pokoknya yaitu melaksanakan ketatausahaan dan bimbingan OSIS dengan rincian tugas :
a.       Membantu program kerja OSIS.
b.      Membina dan mengembangkan kegiatan OSIS.
c.       Membina olahraga, UKS, Pramuka, Kesenian, PMR, dan lain-lain.
d.      Menyelenggarakan dan mengkoordinasikan PHBI / PHBN bersama wakasek           dan humas.
e.       Melaksanakan organisasi OSIS.
f.        Mengatur kegiatan ekstrakurikuler yang diadakan seminggu sekali / kegiatan lain seperti perkemahan.
g.       Mengatur pelaksanaan upacara rutinitas dan lain-lainnya.
h.      Mengkuti kegiatan-kegiatan luar yang sekiranya ada misi dan visi dan menguntungkan berdasarkan kemampuan.
i.        Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh kepala sekolah.
                           3.2.1.5.         Koordinator Humas dan kesra.
                                                Tugas pokoknya adalah melaksanakan bidang ketatausahaan dan urusan kesejahteraan guru dan karyawan. Dengan perincian tugas :
a.       Mengusahakan kesejahteraan guru dan karyawan berdasarkan kemampuan dan melihat masa depan
b.      Mengadakan konsultasi dan silaturahmi dengan wali siswa dan tokoh masyarakat, rois, serta penguasa setempat.
c.       Bersama-sama kepala sekolah dan koordinator urusan terkait menyelenggarakan rapat awal dan akhir tahun untuk mempertanggungjawabkan tugas dan membuat RAPBS tahun ajaran baru.
d.      Memberikan santunan dan kesejahteraan guru/ keryawan sesuai dengan kemampuan
e.       Menyelenggarakan bakti sosial dan memberikan informasi kepada wali siswa dan masyarakat
f.        Membuat pertanggungjawaban kepada kepala sekolah dan melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala sekolah
3.2.1.6.   Koordinator urusan bimbingan dan penguluhan
Tugas pokok melakukan bimbingan dan penyuluhan serta hubungan kasus siswa. Dengan perincian tugas sbb :
a.       Menyusun rencana dan bimbingan program BP
b.      Mengamati siswa sehari-hari, mengadakan komunikasi dengan wali kelas, guru dan orang tua serta mengumpulkan data pribadi siswa
c.       Menelusuri latar belakang siswa kemudian memberikan bimbingan mengenai mental dan kasus siswa
d.      Mengadakan hubungan dengan masyarakat antara lain dengan orang tua siswa, lembaga institusi, dan dengan institusi-institusi lain seperti dokter, ulama dan lainnya.
e.       Mengadakan pertemuan khusus rutin maupun insidental
f.        Menelusuri bakat dan minat siswa melalui kelompok belajar dan kelompok ekstra kurikuler.
g.       Memberikan informasi kepada siswa berkenaan dengan peranan BP, tata tertib sekolah, cara belajar yang baik serta etika pergaulan, bahaya pengaruh oba-obatan terlarang.
h.      Melaksanakan tugas lain yang diberikan kepada sekolah.
3.2.2.      Proses Belajar Mengajar
Untuk komponen proses belajar mengajar, dalam hal ini peneliti melihat ada empat indikator telah dipenuhi di lingkungan sekolah dalam pelaksanaan MBS di SMA Kesatrian 1 Semarang. Empat indikator itu adalah :
a.       Mempromosikan belajar siswa
b.            Menyusun kurikulum yang cocok dan tanggap terhadap semua           kebutuhan siswa
c.       Menawarkan pembelajaran yang efektif
d.      Menyediakan pengembangan pribadi siswa[xiii]
                  Data tentang proses belajar mengajar ini dapat dilihat pada frekwensi kehadiran siswa, guru, dan karyawan. Data pada frekwensi kehadiran siswa antara lain :
a. Berjalannya diskusi kurikulum lintas mata pelajaran dapat dijalankan secara optimal
b.Kegiatan belajar mengajar dapat dijalankan siswa setiap kelas dengan kondisi intensitas yang tinggi
c. Proses kegiatan KBM setiap hari kondisi siswa dengan motivasi sangat tinggi.
                  Pada frekwensi kehadiran guru dapat dilihat antara lain :
a. Proses KBM berjalan dengan metode cukup bervariasi
b.Pada penyajian masing-masing KBM pada setiap guru dengan kondisi motivasi sangat tinggi
c. Proses pengalokasian waktu per mata pelajaran oleh setiap guru berjalan sangat efektif
                  Frekwensi kehadiran pada karyawan, dapat dilihat pada frekwensi sebagai berikut :
a. Ketercukupan / ketersediaan tenaga teknis di masing-masing laborat pustakawan, maupun BK berjalan cukup tinggi
b.Kemampuan staff administrasi dalam menjalankan tugas dan perannya menunjukkan tinggi sekali
c. Kesesuaian antisipasi pada setiap perubahan nilai / paradigma dalam memenuhi kebutuhan proses kegiatan pembelajaran menunjukkan kesiapan tinggi.
                  Data tentang kurikulum yang ditawarkan pada setiap jurusan yang tersedia dapat ditunjukkan pada frekwensi sebagai berikut :
a. Pada penyajian kurikulum di jurusan IPA terlihat kesiapan yang sangat tinggi, seperti lengkapnya laboratorium IPA.
b.Kelengkapan kurikulum pada jurusan IPS cukup, seperti ketersediaan laboratorium bahasa ada tersedia
c. Kelengkapan kurikulum pada jurusan bahasa cukup, seperti kelengkapan laboratorium komputer ada tersedia, laboratorium bahasa ada tersedia. Kelengkapan saluran internet ada tersedia.
3.2.3.      Sumber Daya Manusia
            SMA Kesatrian 1 Semarang dalam hal ini melaksanakan lima karakteristik MBS, yakni  dengan melakukan proses seleksi tenaga sekolah yang berkualitas. Dalam hal ini SMA Kesatrian 1 Semarang menyeleksinya sesuai dengan kapasitas dan kapabilitasnya akan wawasan school based strategis dan menempatkan personal, baik guru, karyawan, pustakawan, dan staf sekolah sesuai dengan bidangnya masing-masing. Hal ini dilakukan guna memenuhi kebutuhan siswa di SMA Kesatrian 1 Semarang. Pemenuhan kualifikasi akademik pendidik dan tenaga kependidikan sekolah ini dilakukan dengan mengembangkan bahan ajar berbasis TIK, melalui workshop / pelatihan, baik yang bersifat eksternal maupun internal (IHR).[xiv]
            Hal lain yang telah dilaksanaan SMA Kesatrian 1 Semarang dalam pengembangan sumber daya manusia adalah dengan mengadakan kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan dan mengembangkan potensi tenaga di lingkungan sekolah. Sedangkan tahapan selanjutnya, sekolah senantiasa mengadakan evaluasi atau pembahasan mengenai penampilan SMA Kesatrian 1 Semarang (school performance). Evaluasi ini dilakukan berpedoman pada standar pengelolaan sekolah, yakni :
a.             Menyusun pedoman pemilihan mata pelajaran yang sesuai dengan potensi dan minat belajar siswa.
b.      Penyusunan pedoman penilaian
c.       Penyusunan panduan layanan konseling bagi siswa.
d.      Penyusunan kegiatan ekstra dan kurikuler
e.       Penyusunan kegiatan pembinaan prestasi unggulan
               Karakteristik pengembangan sumber daya manusia lain yang dilaksanakan SMA Kesatrian 1 Semarang adalah dengan meningkatkan baik sarana dan prasarana sekolah yang lebih menunjang kebutuhan siswa, proses belajar mengajar yang lebih efektif, dan lain sebagainya. Hal ini dilakukan guna menarik minat masyarakat akan hasil atau out put sekolah yang lebih berkualitas.
3.2.4.      Sumber Dana dan Administrasi
Masalah keuangan secara umum sangat erat berkaitan dengan budgeting atau pembiayaan, sedangkan masalah pembiayaan itu sendiri merupakan faktor yang sangat penting dan menentukan dalam maju-berkembang atau mundurnya kehidupan organisasi seperti halnya lembaga-lembaga pendidikan dan lembaga-lembaga lainnya. [xv]
Berikut tabel penerimaan dan pengeluaran Sumber Dana dan Administrasi pada SMA Kesatrian 1 Semarang:[xvi]

Tabel Penerimaan

No

Penerimaan
Sumber Dana
Jumlah (Rp)

Saldo Awal Tahun
Rp.        5.020.165.00.,
1.
Pemerintah Daerah
a. Gaji & Kesra Guru
b. Gaji & Kesra Pegawai
c. Gaji & Kesra Guru Bantu

2.
Pemerintah Pusat
a. Subsidi

3.
Yayasan Pendidikan
a. Gaji Pegawai
b. Operasional/pemeliharaan
c. Administrasi

Rp. 1.181.549.600.00  .,

4.
Lembaga Swasta Non Pend.
a. Uang Pangkal/Bangku
b. Uang dari Komite Sekolah
c. Ekstrakurikuler
d. Lain-lain

Rp.     650.000.000.00.,
5.
Unit Produksi

6.
Sumber lain

7.
Jumah Penerimaan
Rp. 1.836.569.765.00.,


Kesenjangan di lapangan mengenai adanya pembedaan antara sekolah negeri dan sekolah swasta, sehingga dalam hal ini SMA Kesatrian 1 Semarang mengandalkan sumber dana utamanya dari peran serta orang tua siswa dan yayasan pendidikan sekolah. Orang tua siswa melalui Uang Pangkal/Bangku ketika memasukkan anaknya pada saat awal pembelajaran, sedangkan sumber dana dari yayasan pendidikan sekolah


                           Tabel Pengeluaran[xvii]
No
Pengeluaran
Sumber Dana
Jumlah (Rp)
1.
Gaji dan Kesra Guru
a. Gaji Guru
b. Gaji Guru DPK (Swasta)
c. Gaji Guru Honorer
d. Gaji Guru Bantu/Kontrak
e. Kesra Guru

Rp. 1.181.549.600.00.-
Rp.     34. 422.000.00.-
Rp.      41.360.000.00.-

Rp.      16.975.000.00.-
2.
Gaji Dan Kesra Pegawai
a. Gaji Pegawai
b. Gaji Pegawai Honorer
c. Kesra Pegawai

Rp.      71.068.800.00.-
Rp.      44.916.800.00.-
Rp.      16.405.600.00.-
3.
Proses Belajar-Mengajar
Rp.      57.637.800.00.-
4.
Pemeliharaan Sarana-prasarana
a. Gedung
b. Alat
c. Perabot

Rp.      42.840.000.00.-
Rp.      21.580.000.00.-
Rp.      17.900.000.00.-
5.
Rahabilitasi

6.
Pengadaan Sarana-prasarana
a. Pengadaan Buku
b. Pengadaan Lainnya

Rp.        8.190.400.00.-
Rp.      60.243.400.00.-
7.
Kegiatan Ekstrakurikuler
Rp.      12.093.750.00.-
8.
Daya dan Jasa

9.
Tata Usaha/Administrasi
Rp.      78.814.800.00.-
10.
Lainnya


Saldo Akhir Tahun
Rp.    130.571.815.00.-

Jumlah Pengeluaran
Rp. 1.705.997.950.00.-

3.3.   Kontribusi Spiritualitas Islam (SI) Bagi Manajemen Sekolah
3.3.1.      Kesungguhan
Dari data yang diperoleh antara lain :
3.3.1.1.                  Program Ekstra
Kesungguhan program ekstra yang diberikan sekolah siswa kelas X, XI, dan kelas XII, diantaranya adalah Baca Tulis Al-Qur’an (BTA), yaitu diberikan diluar jam kurikulum dengan cara klasikal, dengan metode qiro’ati. Dalam hal ini pemandu utama adalah guru agama dan pemandu pendamping diambilkan dari tenaga yang memiliki syahadah. Dengan mengambil tempat penyajian di kelas dan mushola sekolah.[xviii]
Kedua, Seni Baca Al-Qur’an (SBA), sistem rekrutmen seni baca al-Qur’an ini pertama diberikan kepada setiap kelas secara berurutan dari kelas X, kelas XI, kelas XII setiap minggunya. Dan untuk menarik menggubah program SBA ini, ada upaya seleksi Qori’ atau Qori’ah dengan dibina, diarahkan, ke kelas khusus bagi mereka yang memiliki kemampuan membaca lebih baik untuk diharapkan dapat mewakili sekolah SMA Kesatrian 1 Semarang dalam kompetisi / kejuaraan, baik di tingkat Kotamadia maupun Nasional.[xix]
Ketiga, Kegiatan Ahad Pagi (KAP), kegiatan ini berlaku bagi kelas X, XI, dan XII secara bergilir diberikan setiap pagi pukul 07.00 – 08.30 WIB, bertempat di mushola sekolah. Adapun penyaji KAP ini, pemandu utamanya adalah guru agama Islam dari sekolah bersangkutan maupun dari pihak luar, dengan penekanan pihak luar tersebut mempunyai pengetahuan mengenai visi dan misi sekolah, sehingga dalam.[xx]
Keempat, program mujahadah, kegiatan ini berlaku bagi kelas XII, dengan mengambil waktu setiap menjelang Ujian Nasional berlangsung. Dalam hal ini program mujahadah diikuti oleh siswa kelas XII secara keseluruhan, guru, wali murid, dan karyawan. Program mujahadah ini dalam pelaksanaannya adalah dakwah bil hal, yakni guru agama bersama Pembina OSIS secara simbolik mendampingi kegiatan-kegiatan siswa kelas XII dalam koordinasi OSIS untuk memberikan sumbangsan sosial ke panti asuhan atau lembaga keagamaan sambil memohon do’a restu untuk dapat tercapainya Ujian Nasional dengan baik. Dan sukses.[xxi]
Kelima, Program Istighotsah, kegiatan ini untuk kelas XII, diintensifkan pelaksanaannya setiap malam Jum’at atau Kamis sore hari. Dalam pelaksanaannya istighotsah ini dilaksanakan antara 7-10x kegiatan dengan format do’a yang sudah dibakukan oleh guru agama diantaranya sholawat munjiat, do’a sapu jagad, kalimat tahmid, tahlil, takbir dan juga asma’ul khusna. Dan tidak jarang disertakan pula sholat hajat bersama.
Keenam, Program Sikap Religius Pendidik, dalam hal ini sikap religius dikondisikan sekolah pada para pendidik, baik yang beragama Islam maupun non Islam, dengan harapan ada keserasian pikir dan rasa yang diterima oleh siswa. Sikap religius pendidik ini dalam pelaksanaannya, guru senantiasa mengedepankan nilai-nilai Islam dalam setiap aktifitas KBM. Dalam hal ini, kepala sekolah sangat berperan bagi pelaksanaan Program Sikap Religius Pendidik.[xxii]
Ketujuh, Program Struktural Religius, kegiatan ini kepala sekolah lebih menekankan sikap religius pada dewan guru yang menempati stuktural, baik wakil kepala sekolah, pembina OSIS, Guru BK, untuk memiliki sikap yang sama terhadap penanaman nilai-nilai religius ini.[xxiii]
3.3.2.      Berbuat Baik
Berdasarkan data yang diperoleh, indikator berbuat baik ini meliputi Program Jum’at Beramal, Program Infaq Sudut Kelas, Program Komposisi Peserta Didik, dan Program Tasamuh.
a. Program Jum’at Beramal
Pada program ini sekolah membuat kebijakan yang berlaku bagi siswa kelas X, XI, dan XII, untuk rela beramal setiap Hari Jum’at, dengan memasukkkan rupiah ke kotak amal. Program ini dimaksudkan agar siswa SMA Kesatrian 1 Semarang tertanam jiwa sosial untuk rela membantu bagi mereka yang kurang mampu atau rela membantu bagi kepentingan masyarakat yang membantu, seperti di sumbangkan ke panti-panti asuhan atau kegiatan keagamaan lainnya. 
b. Program Infaq Sudut Kelas
Program ini diberlakukan untuk setiap kelas agar siswa kelas tersebut, rela menyumbangkan rupiah melalui sudut infaq. Diharapkan siswa tertanam sifat peduli terhadap kelompok kecil, seperti kelas. Adapun kegunaan Infaq Sudut Kela ini diperuntukkan antara lain, peserta didik di kelas masing-masing yang kurang mampu akan disantuni atau kepentingan kesehatan kelas.
c. Program Komposisi Peserta Didik
Program ini dilaksanakan oleh sekolah SMA Kesatrian 1 Semarang, agar peserta didik yang muslim dan non muslim. Program kegiatan ini dimaksudkan agar jiwa toleransi beragama tersosialisasi dengan cara menghargai perbedaan agama yang dianutnya dan sanggup untuk saling menghormati.
d. Program Tasamuh
Program ini dilakukan dengan cara murid yang beragama non Islam diberi kebebasan untuk memilih. Program ini dimaksudkan tertanamnya jiwa tasamuh (toleransi) bahwa tidak ada pemaksaan suatu agama terhadap pemeluk agama lain, bagi peserta didik/siswa.[xxiv]
3.3.3.      Menghargai Waktu
a.       PPIK (Program Pengayaan Intern Kelas)
Program ini dilakukan khususnya pada kelas X dan kelas XI di masing-masing rombongan belajar, dengan cara memberikan pengayaan seusai jam belajar kurikulum (13.50 WIB), untuk diberikan pengayaan jam tambahan berupa penanaman nilai-nilai keagamaan, seperti, tata cara wudhu yang benar, tata cara sholat yang benar, tata cara penyelenggaraan jenazah, atau diskusi-diskusi keagamaan.
Program ini diharapkan agar seusainya jam kurikulum, siswa tidak langsung pulang ke rumah, namun dikondisikan agar tetap di lingkungan sekolah sampai masuk waktu ashar (15.00 WIB). Dan sekitar jam 15.30, peserta didik baru dikondisikan pulang kerumah masing-masing.
b.      Program Baju Muslim & Muslimah Siswa
Program ini dilakukan untuk setiap pelajaran Agama Islam di kelas itu, maka siswa dikondisikan untuk memakai baju dengan nuansa muslim atau muslimah. Bagi peserta didik wanita tidak harus memakai jilbab. Program Baju Muslim & Musliman Siswa, diharapkan peserta didik tidak merasa canggung menggunakan baju muslim atau musliman, khususnya di waktu pelajaran Agama Islam diberikan.[xxv]
Diharapkan peserta didik dapat mengembangkan lebih jauh, baik di rumah maupun dalam kehidupannya sehari-hari.
3.3.4.      Peneguhan Agama
b.      Program Sholat Dhuhur-Ashar Berjamaah
Pada program ini sekolah memberlakukan kelas X, XI, dan kelas XII untuk melaksanakan sholat Dhuhur dan Asyar secara berjama’ah, dengan cara bergilir. Program ini dimaksudkan untuk shalat wajib harus dilakukan baik di sekolah, di rumah, maupun dimana saja. Kewajiban yang harus dilaksanakan sesuai dengan waktunya.
c.       Program Doa Bersama
Program ini dilaksanakan ke masing-masing rombongan belajar menggunakan microphone yang tersentral dari ruang guru. Program Doa Bersama dilaksanakan setiap Hari Jum’at pagi, yakni dengan membaca do’a belajar. Hal ini dimaksudkan agar adanya penyatuan yang serasi antara nilai rasio dengan nilai emosional spirit religius pada jiwa siswa, yang dalam perkembangannya diharapkan siswa memiliki sikap kesadaran individu bahwa setiap akan memulai belajar baik di kelas di rumah maupun dimana saja memulainya dengan berdoa.
d.      Program Mujahadah dan Istighotsah
Program ini dilaksanakan khusus untuk siswa kelas X dan kelas XI setiap menjelang ulangan baik semester ganjil maupun ulangan kenaikan kelas. Yaitu dilaksanakannya kegiatan mujahadah dan istighotsah. Program ini dimaksudkan agar setiap jiwa anak menyadari bahwa dalam menghadapi persoalan yang menentukan siswa diharapkan tidak sekedar mengandalkan kemampuan IQ yang rasional, akan tetapi perlu penyerahan jiwa kepada Allah untuk mendapatkan hasil yang optimal.
e.       Program Sholat Dhuha.
Program ini dilaksanakan khususnya pada kelas XII, setiap pagi antara istirahat I maupun istirahat II. Istirahat I sekitar jam 09.00 WIB., dan istirahat II sekitar jam 11. program ini dimaksudkan pencerahan jiwa yang total akan mudah menyerap informasi atau nilai-nilai. Sehingga kesiapan jiwa benar-benar terkondisi pada saat yang diperlukan seperti, menghadapi UN diakhir masa belajarnya

D. ANALISIS MBS DAN SPIRITUALITAS ISLAM

4.1.1. Faktor MBS
a.       Manajemen
Berdasarkan data di lapangan secara umum proses manajemen yang dilaksanakan di SMA Kesatrian 1 Semarang berjalan sangat baik hal itu terbukti diantaranya kepemimpinan sekolah dilaksanakan dengan efektif efisien kepemimpinan yang paduan antara kepemimpinan atas ke bawah (top down) maupun kepemimpinan dari bawah ke atas (bottom up). Dua warna paduan tersebut sehingga tampaklah kepemimpinan yang tegas, jelas, efektif dan optimal; guru dan staf menjalankan tugas tanpa merasa di dikte ; segenap peserta didik menjalankan proses pembelajaran tanpa merasa diawasi dan terkekang, dan berjalanlah KBM yang tertib lancar dan efektif. Termasuk juga guru dan staf karyawan dalam melaksanakan peran dan tugas masing-masing dijalankan secara profesional bertanggungjawab dan penuh dedikasi sehingga yang tampak adalah aktifitas berjalan seperti diharapkan.
b.      Proses PBM
Dari data tentang proses belajar mengajar di SMA Kesatrian 1 Semarang cukup stabil dan memenuhi target terutama pada KBM yang dilaksanakan kelas IPA bahwa dengan laboratorium yang lengkap dan tenaga pendidik yang menguasai serta pengayaan jam ekstra diluar seusai pelaksanaan KBM memberi nilai poin yang menggembirakan sehingga tampak pada hasil out put kelas IPA lebih unggul dari kelas lainnya yaitu kelas IPS maupun kelas Bahasa.
Penulis melihat dengan dilaksanakannya program rintisan sekolah kategori mandiri seharusnya ada persaingan yang kompetitif yang muncul dari masing-masing jurusan apalagi data menunjukkan bahwa peserta didik yang di SMA Kesatrian 1 Semarang memiliki nilai NEM yang tinggi sehingga hal itu tentu memudahkan dalam proses produktif dan akan mampu pula membawa out put hasil yang kompetitif.
Hal itu barangkali di samping proses pembelajaran dengan fasilitas sarana yang tidak imbang hal itu terbukti pada laboratorium bahasa tidak selengkap laboratorium IPA, bahwa kesiapan laboratorium bahasa baru pada tingkat ada sedangkan kesiapan laboratorium IPA menunjukkan kesiapan yang lengkap hal diatas sebetulnya yang diperlukan adalah pengalokasian yang tepat guna, apalagi lembaga ini per tahun mendapat kucuran bantuan dri block grand 50 juta dan saat ini telah memasuki alokasi bantuan yang kedua.
c.       Sumber Daya Manusia
Berdasarkan data yang penulis kumpulkan menunjukkan bahwa sumber daya manusia di lingkungan SMA Kesatrian 1 Semarang cukup tinggi dan berbobot hal itu terbukti 98% guru dan karyawan telah bertitel S-1 dan satu guru sebagai kandidat S-2 yaitu Bapak Tri Tjandra M, M.Pd. yang dalam hal ini sekaligus sebagai ketua program RSKM termasuk pula peserta didik ada dalam kategori sumber daya manusia tinggi dan terpilih terbukti siswa yang terjaring masuk di SMA Kesatrian 1 Semarang ini memiliki nilai tertinggi 46.02 pada tahun 2007-2008 dan nilai terendah 33.20 pada tahun yang sama dan nilai rata-rata 36,76 adalah sebuah nilai diatas rata-rata. Sebagai perbandingan untuk anak dengan nilai terendah 33.20 adalah nilai dipatok oleh SMA Negeri 5, 4 dan yang lain apalagi jika anak dengan nilai NEM 46.02 akan terasa lenggang dan jauh dari kendala masuk dan berkompetisi di sekolah negeri Semarang.
Namun dalam prosesnya data lulusan pada tahun 2007-2008 untuk Bahasa yang hasilnya 6.53 hal ini jika dikalikan dengan 6 materi UN itu baru mendapatkan nilai hasil NEM 39.18% di bawah Danem saat di lembaga ini. Sementara pada kelas IPA pada tahun yang sama hasil out put 7.12 jika hal ini dikalikan 6 materi UN di SMA baru memperoleh NEM 42.72 masih di bawah NEM tertinggi pada saat penerimaan (46.02) sehingga dapat penulis simpulkan jika hasil yang sama dari NEM saat diterima sebagai peserta didik dianggap proses yang belum berhasil apalagi kalau NEM yang saat dihasilkan out put ada di bawah NEM saat diterima sebagai peserta didik. Dari kesimpulan itu penulis berharap bukan sekedar alat atau sarana dan prasarana yang perlu ditingkatkan namun perlu diimbangi dengan proses yang efeltif dan kompetitif sehingga tahun 2010 status rintisan akab berubah menjadi sekolah kategori mandiri yang benar.
d.      Sumber Dana dan Administrasi
Berdasarkan data yang penulis kumpulkan pada bab III secara umum SMA Kesatrian 1 Semarang dapat dikatakan lembaga swasta yang sangat survival hal itu terbukti dengan lembaga yang memiliki guru staf dan karyawan sebanyak 57 personal dan 50% lebih sebagai guru tetap yayasan tentu besar pula dana yang dianggarkan juga berdasarkan banyaknya piala yang diperoleh sampai dengan 2006 dari semua juara yang diperoleh ada sebanyak 82 jenis hal ini tentu memerlukan sarana dan pra sarana yang tidak sedikit juga dapat penulis analisa dari sumbangan SPI serta SPP perbulan yang begitu tinggi cukup menunjukkan bahwa SMA Kesatrian 1 Semarang salah satu sekolah swasta yang memiliki potensi lembaga yang sangat diperhitungkan belum termasuk dana yang diperoleh seperti dari block grand yang disebut sebagai dana dekonsentrasi yaitu dana yang pertanggungjawabannya secara khusus kepada lembaga yang mendanai dengan kata lain dana RAPBS ditambahkan dengan dana dekonsentrasi tentu jumlah dana yang sangat besar. Berdasarkan hal tersebut menurut penulis SMA Kesatrian 1 Semarang seharusnya bukan sekedar target sebagai SKM tapi perlu dirintis menjadi Rencana Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dengan demikian penulis berharap lebih jauh bahwa pelaksanaan MBS tidak hanya diterapkan pada sekolah negeri tetapi ditingkat swasta dapat pula ditingkatkan sehingga adanya keseimbangan persepsi di masyarakat transparansi berjalan secara bagus.
           
         4.2.1. Faktor SI
         a.   Kesungguhan
Berdasarkan indikasi kesungguhan yang dapat penulis simpulkan dari kondisi SMA Kesatrian 1 Semarang cukup memberi performance yang menarik hal ini didasarkan bahwa SMA Kesatrian 1 sekolah swasta yang dalam mengemban visi misinya menggunakan warna yang umum sehingga semua kalangan di masyarakat tidak ada hambatan psikologi yang bermaksud mendaftar di sekolah ini namun dengan penerapan sikap perilaku yang menitikberatkan pada kesungguhan tentu akan memberikan nilai tambah dalam penyelenggaraan pendidikan yang tentu memberikan warna khusus yang memikat dan memiliki daya tarik tersendiri.
         b.   Berbuat Baik
berdasarkan indikasi yang penulis kumpulkan mengenai berbuat baik di SMA Kesatrian 1 Semarang dapat dikatakan bahwa sikap dan perilaku yang mengarah pada berbuat baik seperti pelaksanaan infaq jum’at, sudut infaq, dan lain-lain memberi gambaran betapa kondusifnya di lingkungan SMA Kesatrian 1 Semarang hal ini dapat penulis bandingkan untuk ukuran lembaga pendidikan dengan menerapkan infaq yang rutin setiap jum’at bahkan infaq dalam konteks sudut kelas sekalipun dengan target harapan yang begitu bagus tidak mudah dilaksanakan apalagi jika lemabaga pendidikan itu rombongan belajar dari siswa kategori ekonomi menengah ke bawah akan terasa lebih sulit. Namun kenyataan menunjukkan bahwa indikasi berbuat baik yang dicanagkan oleh lembaga sejolah tidak hanya berjalan di tingkat peserta didik akan tetapi hal itu terjadi pula di tingkat guru dan staf karyawan sehingga dapat penulis simpulkan sikap dan perilaku yang memiliki nilai kebaikan seperti itu akan memberi perubahan lembaga baik hal yang menyangkut peraturan maupun kebijkan lain yang di dasarkan atas kesepakatan. Adapu kondisi seperti itu menurut penulis akan mudah lenyap manakala tidak didukung oleh kepemimpinan dari stakeholder yang kuat dan tangguh tentu akan mudah menyulut ketidakpuasan individu akibat dari pudarnya kepercayaan atau tersulut kecemburuan dari sebuah keyakinan maka indikasi berbuat baik akan menjadi lumpuh dan stagnan. Harapan penulis kondisi itu agar tetap dibarengi dengan sikap transparansi daripengelola juga sikap partisipasi yang alami dengan terus mengembangkan sikap tasamuh dan toleran antara sesama warga sekolah.
         c.   Menghargai Waktu
Berdasarkan indikator tentang menghrgai waktu di SMA  Kesatrian 1 Semarang penulis melihat betapa tangguhnya lembaga pendidikan ini hal itu didasarkan pada satu pemahaman bahwa budaya masyarakat kita dalam al menghargai waktu amatlah sulit baik itu waktu yang terjadi dalam kehidupan riil di masyarakat secara alami maupun menghargai waktu yang dikontrol secara terjadwal namun di lembaga ini disiplin waktu relatif dapat ditegakkan baik itu waktu yang berkaitan dengan disiplin masuk sekolah, disiplin belajar, mauupun disiplin pulang sekolah juga tidak kalah pentingnya adalah menghargai waktu saat menjalankan ibadah baik yang pokok maupun tambahan seperti shalat wajib shuhur dan ashar bagi kelas X, XI, dan XII maupun shalat dhuha, shalat tambahan yang diberlakukan bagi kelas XII relatif dapat dijalankan dengan baik. Belum termasuk waktu yang diberikan sebagai tambahan seusai pelaksanaan KBM. Pengayaan jam ekstra yang pada umumnya sulit dijalankan disekolahh yang lain tetapi di SMA Kesatrian 1 Semarang pengayaan jam tambahan keagamaan yang diberlakukan secara bergilir menurut rombongan belajar dapat dijalankan hingga masuk waktu ashar.
Hal itu ada kendala yang riskan yang bisa bersumber pada salah satu peserta didik yang tidak mematuhi bahkan bisa dari figur guru atau tenaga yang diberi tugas yang tidak melakukan secara optimal, maka akan memudahkan sikap menghargai waktu menjadi pupus dan stagnan.
Dari kondisi kendala tersebut tentu harapan penulis menghargai waktu diperlukan adanya proses manajemen yang mengikat baik langsung maupun tidak langsung dan akan lebih bagus dalammenegakkan sikap menghargai waktu diciptakan adanya reward and punishment.
         d.   Peneguhan Agama
Berdasarkan indikator yang penulis kumpulkan dalam hal peneguhan agama di SMA Kesatrian 1 Semarang dapatlah dianalisis bahwa suatu upaya paling urgen dan hal itu dapat dijalankan dilembaga ini dengan cukup efektif dan lancar. Peneguhan agama diantaranya pengadaan baca tulis alqur’an (BTA), seni baca alqur’an (SBA) adalah contoh kunci yang diperlukan dalam rangka memahami kerangka iman dan islam secara utuh dan mendasar baca tulis alqur’an atau seni baca tulis alqur’an merupakan alat penunjang yang berfungsi sebagai prasyarat bagi setiap person apakah peserta didik guru atau karyawan dalam upaya mendalami agamanya penulis melihat untuk pelaksanaan peneguhan agama dalam konteks diatas masih sebatas pada peserta didik dan hal itu bisa saja menjadi bom waktu ketika perasaan kesal atau ketidakpuasan sewaktu-waktu bisa terjadi sudah barangtentu indikator ini akan mengalami titik lemah bahkan stagnan.   
E. SIMPULAN
1.   Dalam Implementasi MBS, khususnya dalam bidang pendidikan spiritualitas Islam, semua pihak dalam sekolah berperan sebagai stimulator, inovator maupun komunikator dalam rangka menanamkan nilai-nilai ke-Islaman sekaligus menerapkan manajemen berbasis sekolah pada bidang pendidikan spiritualitas Islam di sekolah
2.   Secara  konseptual, upaya peningkatan nilai-nilai spiritualitas Islam pada SMA Kesatrian 1 Semarang, belum memahami tugas dan tanggung jawabnya, dan didalam pelaksanaannya kurang adanya kerja sama yang baik. Masing-masing bidang dan personil sering kali bekerja sendiri- sendiri. Hal semacam ini menjadi salah satu penyebab menurunnya semangat untuk menggiatkan nilai-nilai ke-Islam dalam proses kegiatan belajar mengajar.
3.   Dalam  pelaksanaan  (implementasi) manajemen berbasis sekolah (MBS), khususnya pada upaya peningkatan nilai-nilai spiritualitas Islam belum sepenuhnya dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan tidak semua pelaksana memahami prosedur mutu yang berlaku pada unit kerjanya masing-masing. Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab  sebagai kepala sekolah, dan  dalam  upaya  menerapkan  MBS  pada  upaya peningkatan nilai-nilai spiritualitas Islam di  sekolahnya, kepala sekolah telah menerapakan beberapa prinsip yang disarankan dalam MBS antara lain: sistem delegasi, sistem participatory dan pemberdayaan potensi yang ada.
4.  Berdasarkan analisa diatas penulis berharap agar baca tulis alqur’an dan seni baca tulis alqur’an dan termasuk pula kuliah ahad pagi (KAP) tetap dilaksankan sesuai dengan jadwal yang telah terjadwal dan akan lebih bagus lagi apabila indikasi tentang peneguhan agam ini merata diperlakuakan termasuk pada guru dan staf karyawan. Dengan kata lain indikasi peneguhan agama dapat diberlakukan pada semua warga sekolah tidak hanya pada pelaksanaan shalat wajib yang memang itu sudah berjalan pada semua stakehlder namun pada BTA, BSA, dan KAP ini relatif terbatas pada peserta didik dan sebagian para petugasnya.


Catatan Akhir
1. Mulyasa, Manajemen  Berbasis  Sekolah:  Konsep,  Strategi  dan  Implementasi, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002, hlm.4
2. Ibid., hlm. 6
3. Ibid., hlm.23
4. Depdikbud, Buku  I  Konsep  dan  Pelaksanaan MPMBS, Jakarta: Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah, 2001, hlm. 3
5. PH Slamet, Kepemimpinan Kepala Sekolah, Makalah dan Lokakarya Nasional, 2002, hlm. 7 
6. Umaedi, Manajemen  Berbasis  Sekolah  (Pengelolaan  Pendidikan  dalam  Era Masyarakat  Berubah.  Makalah  Seminar  dan  Lokakarya  Nasional  Manajemen  Berbasis Sekolah: Strategi Pemberdayaan Sekolah Ke Arah Otonomi Pendidikan. Kerja sama antara Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP Unnes dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah, 2002, hlm. 9
7. Satmoko, Manajemen  Berbasis Sekolah,  Semarang : Makalah , UNNES, 2001, hlm. 1
8. Sufyarma M, Kapita Selekta Manajemen Pendidikan, Bandung: Alfabeta, 2003 hlm. 94-95
9. Ibid., hlm.95
10. Ibid., hlm. 96
11. Slamet, opcit., hlm. 24-26
12. Depdiknas, Konsep dan Pelaksanaan MPMBS Buku I. Jakarta: Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah, 2001, hlm. 29-47
13. Drs. Lustdiono, Wk. Kesiswaan, Wawancara Langsung, Semarang, tanggal 25 Maret 2009
14. Drs. Alfian, Wakil Kepala HUMAS, Wawancara Langsung, Semarang, tanggal 15 Mar     
15. Dra. Neli Nursiska, Wakil Kepala SARPA, Wawancara Langsung, Semarang, tanggal 15 Maret 2009
16. Drs. Eko Tri Widodo, Panitia PPD, Wawancara Langsung, Semarang, tanggal 25 Maret 2009
17. Dra. Neli Nursiska, Wakil Kepala SARPA, Wawancara Langsung, Semarang, tanggal 15 Maret 2009
18. Supardi, Guru Agama, Wawancara Langsung, Semarang tanggal 2 April 2009
19. Ahmad Dhuha, guru agama, Wawancara Langsung, Semarang, tanggal 2 April 2009
20. Gufron, guru agama, Wawancara Langsung, Semarang, tanggal 2 April 2009
21.Gufron., Ibid
22. Ahmad Dhuha., op cit
23. Ibid.,
24. Lusdiono., op cit
25. Ibid.,







DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud, 2001. Buku  I  Konsep  dan  Pelaksanaan MPMBS, Jakarta: Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah

Depdiknas, 2001, Konsep dan Pelaksanaan MPMBS Buku I. Jakarta: Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah

Khalid Amru, 2007, The Spirit of Change,/ Bangkitlah menuju perubahan hidup yang lebih sukses,judul asli: Hatta Yughayyiru ma bi anfusihi , penerjemah :Arya Noor Amarsyah dan Hadiri Abdur Razak, Jakarta: Pustaka Nuun, cet.1.

Mulyasa, 2002, Manajemen  Berbasis  Sekolah:  Konsep,  Strategi  dan  Implementasi, Bandung: PT Remaja Rosdakarya

PH Slamet, 2002, Kepemimpinan Kepala Sekolah, Makalah dan Lokakarya Nasional 

Satmoko,  2001, Manajemen  Berbasis Sekolah,  Semarang : Makalah , UNNES

Sufyarma M, 2003, Kapita Selekta Manajemen Pendidikan, Bandung: Alfabeta

Umaedi, 2002, Manajemen  Berbasis  Sekolah  (Pengelolaan  Pendidikan  dalam  Era Masyarakat  Berubah.  Makalah  Seminar  dan  Lokakarya  Nasional  Manajemen  Berbasis Sekolah: Strategi Pemberdayaan Sekolah Ke Arah Otonomi Pendidikan. Kerja sama antara Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP Unnes dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah,





 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar